ahli maksiat lebih mulia daripada ahli ibadah

2 Ibadah yang mudah,tanpa lelah dan lebih dicintai Allah Ketahuilah wahai sahabatku,mengenakan jilbab bukan hanya sekedar tradisi suatu budaya atau sebuah tren masa kini. Namun mengenakan Jilbab termasuk Ibadah, dan merupakan ibadah yang agung karena banyak mengandung kebaikan. bahkan ia lebih dicintai daripada ibadah sunnah lainnya. 2807/2022 08:05 PM. KUALA LUMPUR, 28 Julai (Bernama) -- Pindaan Perlembagaan Persekutuan bagi mewujudkan peruntukan larangan Ahli Dewan Rakyat bertukar parti yang diluluskan di Dewan Rakyat hari ini adalah isyarat jelas bahawa Ahli Parlimen mengamalkan politik matang. Perdana Menteri Datuk Seri Ismail Sabri Yaakob berkata politik SeorangAhli Ibadah-pun akan Lebih Buruk dari Ahli Maksiat, Jika ia Seperti ini. semua amal ibadah yang telah dikerjakan oleh si ahli ibadah karena sifatnya yang sombong dan merasa dirinya lebih mulia dibandingkan si ahli maksiat. Apa yang sebenarnya membuat kedudukan si alim lebih rendah daripada si maksiat adalah sikapnya yang begitu Jikakita belajar lebih mendalam tentangnya kehidupan kita lebih bermakna, jiwa dan rohani kita insyallah akan bebas dan terhindar daripada melakukan perkara yang dilarang oleh islam. Oleh itu, kita wajib mengenal islam lebih mendalam jika kita inginkan kesempuranaan hidup dan diredhai allah s.w.t. di sini terdapat banyak langkah dan cara untuk viewctu152 ibadah melahirkan ctu 152 at universiti teknologi mara. ibadah melahirkan manusia yang berakhlak mulia kod kursus nama kursus fakulti kod program no. kumpulan : ctu152 : AisyahRA menjawab, "Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja". "Apakah itu?", tanya Abu Bakar RA. "Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana ", kata Aisyah 3 Dikalangan ahli sarjana menyatakan bahawa, melakukan maksiat di bulan Ramadhan sangat besar dosanya. Sebagaimana ia mempunyai kelebihan yang banyak. Sahabat sekalian, semoga kita benar-benar berusaha untuk mendapatkan rahmat Allah s.w.t pada bulan ini dan terhindar daripada melakukan maksiat di dalamnya. Ameen ya Rabb! Lalu ceritakanlah tentang BUMI, dan apa yang lebih luas darinya,” pinta si Ali lagi bersemangat.“Sesungguhnya, KEBENARAN adalah lebih luas daripada bumi,” jawab si Ahli Hikmah pula.“Dan ceritakanlah tentang BATU, serta apa yang lebih keras darinya.”“HATI orang kafir jauh lebih keras daripada batu wahai, Fulan.”“Lalu, apakah Menyakitihati seorang muslim dosanya lebih besar dari menghancurkan ka'bah. Siapa saja yang membuat senang hati seorang muslim, maka Allah akan membuatnya senang kelak di hari akhir." - Habib Umar bin Hafidz "Orang yang tinggi akhlaknya, walaupun rendah ilmunya lebih mulia dari orang yang banyak ilmunya tapi kurang akhlaknya." - Habib Umar bin 1Menganggap Diri Sendiri Lebih Hina daripada segala makhluk Allah. 2.Menganggap orang lain adalah lebih mulia daripada dirinya. a)Maka jika engkau melihat kanak-kanak kecil, maka katakanlah di dalam hatimu bahawa kanak-kanak itu tiada berbuat maksiat terhadap Allah Taala. Maka tiada syak lagi bahawa kanak-kanak itu lebih mulia daripada aku. . Ilustrasi ahli ibadah - Image from berbangga diri karena amalanmu Apalagi jika sampai merendahkan orang lain yang dinilai jauh lebih buruk dibandingkan dengan dirimu. Berikut adalah kisah yang menohok, saat Allah SWT mengangkat derajat ahli maksiat dan menghapus amalan ahli ada seorang lelaki dari kaum Bani Israil yang dijuluki Khali'. Khali adalah seorang yang gemar berbuat maksiat besar. Suatu ketika ia bertemu dengan 'Abid dari kaum Bani Israil. 'Abid adalah seorang yang ahli berbuat ketaatan dan di atas kepalanya terdapat payung Khali' bergumam, "Aku adalah pendosa yang gemar berbuat maksiat, sedangkan dia adalah 'abid-nya kaum Bani Israil, lebih baik aku bersanding duduk dengannya, semoga Allah memberi rahmat kepadaku."Kemudian berjalanlah Khali' tadi lalu duduk di dekat si 'abid. Lantas si 'abid pun bergumam, "aku adalah seorang 'abid yang alim, sedangkan dia adalah khali' yang gemar bermaksiat, layakkah aku duduk berdampingan dengannya?" Tiba-tiba saja si 'abid menghujat dan menendang si Khali hingga terjatuh dari tempat Allah SWT memberikan wahyu kepada Nabi Bani Israil dengan firmannya, "Perintahkan dua orang ini yakni 'abid dan khali' untuk sama-sama memperbanyak amal, Aku benar-benar telah mengampuni dosa-dosa khali', dan menghapus semua amal ibadah 'abid." Maka, berpindahlah payung mika yang dikenakan 'abid sang ahli ibadah kepada khali' sang ahli maksiat. Hikmah Kisah Khali' dan 'Abid Kisah sederhana ini nyatanya memberikan pelajaran yang mendalam serta cambuk bagi kita. Seringkali kita merasa bangga dengan ibadah dan amal saleh yang telah dikerjakan sehingga seolah mudah menghakimi orang lain buruk dan rendah. Sesungguhnya, saat kita berani menganggap orang lain lebih buruk dari kita, keimanan dan ketaqwaan kita masih dipertanyakan dan bahkan diragukan. Syekh Ibnu Athaillah dalam Kitab al-Hikam menegaskan bahwa, "Maksiat yang melahirkan rasa hina pada dirimu hingga engkau menjadi butuh kepada Allah, itu lebih baik dibandingkan dengan ketaatan yang menimbulkan perasaan mulia dan sombong atau membanggakan dirimu."Oleh sebab itu, hina dan butuh kepada Allah keduanya adalah sifat orang yang menghamba kepada-Nya. Sementara itu sifat mulia dan agung adalah sifat Tuhan, sehingga tidak ada kebaikan bagi seorang hamba yang taat tapi berbangga diri dan merasa agung selayaknya JUGAKisah Ahli Ibadah, Selama 220 Tahun Tak Pernah Maksiat, Tapi Mati dalam Keadaan KafirTawadhu-nya orang yang berbuat maksiat dan perasaan hina dan takut kepada Allah, itu lebih utama dibandingkan dengan takabbur-nya orang alim atau orang yang 'abid. Ibnu Athaillah membesarkan hati orang yang telah berbuat dosa supaya tidak putus asa terhadap ampunan Allah orang yang berdosa namun bertobat dengan penuh rasa hina dina dihadapan Allah itu dinilai lebih baik, dibandingkan dengan orang yang ahli ibadah yang merasa paling hebat, suci, dan mulia kemudian menjatuhkan orang-orang yang rendah menurut pandangannya. Rasulullah bersabda, "Jikalau kalian tak pernah berbuat dosa, niscaya yang paling saya takutkan pada kalian adalah yang lebih dahsyat lagi, yaitu 'ujub kagum pada diri sendiri." HR Imam AhmadSifat hina dina adalah wujud sifat menghamba yang seharusnya dimiliki oleh setiap umat Islam. Manusia akan sulit mengakui kehambaannya apabila ia merasa lebih mulia, sombong, ujub, hebat dibandingkan dengan lainnya. Naudzubillahi min dzalik. Semoga kita senantiasa dijauhkan dari sikap ujub atau membangga-banggakan diri dan merendahkan orang lain dengan mudahnya. Berikut adalah salah satu perkatan Imam An Nawawi mengenai cara untuk menghilangkan kebanggan diri yang bisa menjerumuskan kita. “Cara menghilangkan kebanggaan ialah dengan mengingatkan dirinya bahwa dia tidak mencapai hal itu dengan daya dan kekuatannya. Namun itu merupakan anugerah dari Allah ﷻ, dan tidak patut baginya untuk berbangga karena sesuatu yang tidak diciptakannya, semata-mata itu merupakan anugerah dari Allah ﷻ.” Imam an-Nawawi, at-Tibyân fî Adâb Hamalati al-Qur`ân, Dar el-Minhaj, halaman 70Memahami dan menyadari bahwa semua pencapaian dan semua amalan yang kita lakukan tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan Allah SWT membuat diri kita merendah dihadapan-Nya. Serta menjauhkan diri kita dari rasa ujub atau berbangga diri dan menilai orang lain lebih buruk. islam ahli maksiat ahli ibadah kisah hikmah ujub BismillahirrahmanirrahimSegala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya serta pengikutnya yang setia dan adalah menolak kebenaran, mengagungkan diri sendiri 'ujub, dan merendahkan yang yang sudah banyak diceritakan, kesombongan selalu membawa bahaya dan menghilangkan segala kemuliaan. Bahkan seorang yang maksiat saja bisa lebih baik dari ahli ibadah apabila sang ahli ibadah dibutakan dengan kesombongannya. Sedangkan seorang yang maksiat menyadari begitu rendahnya dia dan mengakui tokoh sufi dari Mesir, Syeikh Ibnu Atha’illah As-Sakandary mengatakan bahwa“Maksiat yang menciptakan tapi tumbuh sikap hina dina dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu lebih baik daripada ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang menciptakan sikap merasa lebih mulia dan sombong.”Sebesar apapun dosa dan kejahatan yang diperbuat seseorang, jika kemudian dia bertobat maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan membukakan pintu ampunan dan menyambut dengan kegembiraan yang Maha bin Iyadh menyampaikan nasehat, “Wahai orang yang patut dikasihani, kamu orang jahat, tetapi menganggap dirimu baik. Kamu itu orang jahil tetapi menganggap dirimu berilmu. Kamu bakhil, tetapi menganggap dirimu dermawan. Umurmu pendek, tetapi angan-anganmu panjang.”Seperti yang dikisahkan, seseorang yang dijuluki Khali’ yaitu seorang pemuda yang suka berbuat kemaksiatan suatu waktu ia bertemu dengan seorang abid, yakni seorang yang taat beribadah dari kaum Bani si khali’ berkata, “Aku adalah seorang pendosa yang suka berbuat kemaksiatan, sementara orang itu adalah seorang abid, sebaiknya aku duduk disebelahnya, dan Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepadaku dan memaafkan dosaku.”Kemudian si khali’ duduk disebelah si abid.“Aku adalah seorang yang taat beribadah, sementara pria ini adalah seorang yang amat suka berbuat kemaksiatan, pantaskah aku duduk bersebelahan dengannya ?” gumam si abid. Dan tiba-tiba si abid memaki serta menendang si khali’ hingga jatuh Allah Subhanahu Wa Ta'ala menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassallam mengenai peristiwa ini.“Perintahkanlah kepada kedua orang ini yaitu abid dan khali’ untuk memperbanyak amal mereka. Sesungguhnya Aku benar-benar telah mengampuni dosa-dosa khali’ dan menghapus semua amal ibadah abid.”Dengan demikian semua dosa-dosa yang pernah diperbuat oleh si ahli maksiat menjadi terhapuskan karena ia merasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas semua dosa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta'ala menghapuskan semua amal ibadah yang telah dikerjakan oleh si ahli ibadah karena sifatnya yang sombong dan merasa dirinya lebih mulia dibandingkan si ahli yang sebenarnya membuat kedudukan si alim lebih rendah daripada si maksiat adalah sikapnya yang begitu menyombongkan diri dan menganggap mulia seseorang yang suka bermaksiat itu menyadari dan menimbulkan rasa hina pada dirinya ahli ibadah juga menghakimi dan menghujat bahwa orang yang bermaksiat itu tidak pantas duduk bersandingan hanya Allah lah yang pantas untuk memberi penghakiman terhadap orang ini tentunya dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua, Sedikit amal bisa membuat kita memandang rendah orang amal membuat kita menjadi hakim atas tindakan benar-salahnya orang kisah yang hampir sama juga diceritakan di dalam kitab Sittuna Qishshah yaitu “kisah ahli ibadah yang masuk neraka dan ahli maksiat yang masuk surga”.Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Pada zaman Bani Israil dahulu, hidup dua orang laki-laki yang berbeda satu suka berbuat dosa dan yang lainnya rajin kali orang yang ahli ibadah ini melihat temannya berbuat dosa, ia menyarankan untuk berhenti dari perbuatan kali orang yang ahli ibadah berkata lagi, Berhentilah dari berbuat dosa.’Dia menjawab, Jangan pedulikan aku, terserah Allah akan memperlakukan aku bagaimana. Memangnya engkau diutus Allah untuk mengawasi apa yang aku lakukan.’Laki-laki ahli ibadah itu menimpali,Demi Allah, dosamu tidak akan diampuni oleh-Nya atau kamu tidak mungkin dimasukkan ke dalam surga Allah.’Kemudian Allah mencabut nyawa kedua orang itu dan mengumpulkan keduanya di hadapan Allah Robbul’ ta’ala berfirman kepada lelaki ahli ibadah, Apakah kamu lebih mengetahui daripada Aku? Ataukah kamu dapat merubah apa yang telah berada dalam kekuasaan tanganKu.’Kemudian kepada ahli maksiat Allah berfirman, Masuklah kamu ke dalam surga berkat rahmat-Ku.’Sementara kepada ahli ibadah dikatakan, Masukkan orang ini ke neraka’.”HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Mubarak dalam Az-Zuhd, dan Ibnu Abi Dunya dalam Husn Az-Zhan, dan Al-Baghawi Syrah As-SunnahKedua cerita di atas sama- sama mengajarkan bahwa seseorang yang mulia dan lebih tinggi derajatnya tidak hanya dilihat dari banyak atau sedikitnya dosa, tapi juga dilihat implikasi atau dampak dari amal dia yang banyak amal baiknya menjadi takabbur tentunya semua amal itu akan lenyap. Sedangkan jika si pendosa merasa bersalah dan berusaha untuk bertobat maka akan musnahlah seluruh dosanya.“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat istighfar intropeksi diri dan berusaha untuk tidak mengulangi lagi ”. HR Tirmidzi 2499 “Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan iringilah sesuatu perbuatan dosa kesalahan dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya. Dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik” HR. TirmidziAllah Ta’ala berfirman,إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa perbuatan-perbuatan yang buruk” QS. Huud 114Waspadailah bicara hati kita!Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassallam bersabda“Jika kalian tidak pernah melakukan dosa, niscaya sesungguhnya yang paling ditakutkan pada kalian adalah yang jauh lebih dahsyat yaitu ujub merasa kagum pada diri sendiri.”HR. Imam AhmadItulah informasi dari Ahli Ibadah yang Berlaku Sombong Wallahu a’lam. Semoga dapat menambah pengetahuan kita. Terima kasih atas kunjungannya. JAKARTA – Menuntut ilmu dan menunaikan ibadah merupakan hal yang sama-sama dianjurkan dalam Islam. Meski demikian, keduanya memiliki kedudukan yang berbeda meski sama-sama baik jika ditunaikan. Dalam kitab Muhammad Sang Teladan karya Abdurrohman As-Syarqawi disebutkan bahwa Rasulullah SAW dalam hadis riwayat At-Thabrani pernah berkata فضل العلم خير من العبادة “Fadhlul ilmi khairun min fadhlil ibadati.” Yang artinya “Keutamaan ilmu jauh lebih baik daripada keutamaan ibadah,”. Hadits ini dikatakan Rasulullah SAW tak lepas dari konteks yang terjadi di masa tersebut. Yakni di saat sahabat-sahabat Nabi banyak yang melaksanakan ibadah dengan cara berlebih-lebihan seperti sholat di malam hari dan berpuasa di siang hari terus-menerus. Bahkan di antara mereka ada yang tidak menggauli istri-istrinya lagi. Sehingga Rasulullah SAW pun mengatakan kepada mereka bahwa sebagai seorang Nabi, dirinya masih melakukan makan, minum, menjalani kehidupan sehari-hari, menggauli istri-istrinya, dan menikmati rezeki yang halal. Agama Islam yang dibawa beliau adalah sebuah sistem yang mengatur jalinan sosial manusia. Bukan hanya sistem yang mengatur relasi antara manusia dengan Allah SWT melalui medium ibadah seperti sholat dan puasa. Namun demikian, keutamaan melakukan ibadah juga disinggung Rasulullah SAW. Dalam kitab Lubbabul Hadits, Imam As-Suyuthi menjelaskan bahwa terdapat keutamaan hadits menunaikan ibadah sholat fardhu. Rasulullah SAW bersabda عَنِ ابْنِ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ “Buniyal-Islamu ala khamsin syahadatun an la ilaha illallah wa anna Muhammadan Rasulullah, wa iqami-shalati, wa iyta-i az-zakati, wa hajjul-baiti, wa shaumu Ramadhana.” Yang artinya “Islam dibangun atas lima hal. Antara lain mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berhaji, dan menunaikan puasa Ramadhan,”. Pentingnya menunaikan sholat bagi umat Muslim juga ditegaskan Rasulullah SAW. Hal ini tak kalah pentingnya dari perintah menuntut ilmu. Beliau bersabda مَنْ تَرَكَ الصَّلاةَ مُتَعَمِّدا فَقَدْ كَفَرَ جِهاراً “Man taraka as-sholata muta’ammidan faqad kafara jiharan.” Yang artinya “Barangsiapa yang meninggalkan sholat dengan sengaja, maka ia telah kafir dengan terang-terangan.” Hadits ini kadarnya sahih dan diriwayatkan Imam At-Thabrani. BACA JUGA Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Klik di Sini Bagaimana bisa seorang ahli ibadah lebih buruk dari pada mereka yang ahli zina, ahli judi, ahli mabuk-mabukan, dan ahli maksiat lainnya?Seperti yang dikisahkan, seseorang yang dijuluki Khali’ yaitu seorang pemuda yang suka berbuat kemaksiatan besar. Pada suatu waktu ia bertemu dengan seorang abid, yakni seorang yang taat beribadah dari kaum Bani Israil. Lalu si khali’ berkata, “Aku adalah seorang pendosa yang suka berbuat kemaksiatan, sementara orang itu adalah seorang abid, sebaiknya aku duduk disebelahnya, dan Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepadaku dan memaafkan dosaku.”Kemudian si khali’ duduk disebelah si abid. “Aku adalah seorang yang taat beribadah, sementara pria ini adalah seorang yang amat suka berbuat kemaksiatan, pantaskah aku duduk bersebelahan dengannya?” gumam si abid. Dan tiba-tiba si abid memaki serta menendang si khali’ hingga jatuh Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW mengenai peristiwa ini. “Perintahkanlah kepada kedua orang ini yaitu abid dan khali’ untuk memperbanyak amal mereka. Sesungguhnya Aku benar-benar telah mengampuni dosa-dosa khali’ dan menghapus semua amal ibadah abid.”Dengan demikian semua dosa-dosa yang pernah diperbuat oleh si ahli maksiat menjadi terhapuskan karena ia merasa takut kepada Allah SWT atas semua dosa yang telah dilakukannya, sementara Allah SWT menghapuskan semua amal ibadah yang telah dikerjakan oleh si ahli ibadah karena sifatnya yang sombong dan merasa dirinya lebih mulia dibandingkan si ahli yang sebenarnya membuat kedudukan si alim lebih rendah daripada si maksiat adalah sikapnya yang begitu menyombongkan diri dan menganggap mulia seseorang yang suka bermaksiat itu menyadari dan menimbulkan rasa hina pada dirinya sendiri. Apalagi ahli ibadah juga menghakimi dan menghujat bahwa orang yang bermaksiat itu tidak pantas duduk bersandingan hanya Allahlah yang pantas untuk memberi penghakiman terhadap orang lain. Hal ini tentunya dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua, Sedikit amal bisa membuat kita memandang rendah orang lain. Sedikit amal membuat kita menjadi hakim atas tindakan benar-salahnya orang Juga Sultan Ternate Marah Besar dengan Aksi Duo Serigala, Ini Siksaan Bila Melihat Dangdut VulgarSebuah kisah yang hampir sama juga diceritakan di dalam kitab Sittuna Qishshah yaitu “kisah ahli ibadah yang masuk neraka dan ahli maksiat yang masuk surga”.Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Pada zaman Bani Israil dahulu, hidup dua orang laki-laki yang berbeda karakternya. Yang satu suka berbuat dosa dan yang lainnya rajin beribadah. Setiap kali orang yang ahli ibadah ini melihat temannya berbuat dosa, ia menyarankan untuk berhenti dari perbuatan kali orang yang ahli ibadah berkata lagi, Berhentilah dari berbuat dosa.’ Dia menjawab, Jangan pedulikan aku, terserah Allah akan memperlakukan aku bagaimana. Memangnya engkau diutus Allah untuk mengawasi apa yang aku lakukan.’Laki-laki ahli ibadah itu menimpali, Demi Allah, dosamu tidak akan diampuni oleh-Nya atau kamu tidak mungkin dimasukkan ke dalam surga Allah.’Kemudian Allah mencabut nyawa kedua orang itu dan mengumpulkan keduanya di hadapan Allah Rabbul’Alamin. Allah ta’ala berfirman kepada lelaki ahli ibadah, Apakah kamu lebih mengetahui daripada Aku? Ataukah kamu dapat merubah apa yang telah berada dalam kekuasaan tanganKu.’Kemudian kepada ahli maksiat Allah berfirman, Masuklah kamu ke dalam surga berkat rahmat-Ku.’ Sementara kepada ahli ibadah dikatakan, Masukkan orang ini ke neraka’.”HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Mubarak dalam Az-Zuhd, dan Ibnu Abi Dunya dalam Husn Az-Zhan, dan Al-Baghawi Syrah As-SunnahKedua cerita di atas sama- sama mengajarkan bahwa seseorang yang mulia dan lebih tinggi derajatnya tidak hanya dilihat dari banyak atau sedikitnya dosa, tapi juga dilihat implikasi atau dampak dari amal itu. Jika dia yang banyak amal baiknya menjadi takabur dan sombong tentunya semua amal itu akan lenyap. Sedangkan jika si pendosa merasa bersalah dan berusaha untuk bertobat maka akan musnahlah seluruh SAW bersabda“Jika kalian tidak pernah melakukan dosa, niscaya sesungguhnya yang paling ditakutkan pada kalian adalah yang jauh lebih dahsyat yaitu ujub merasa kagum pada diri sendiri.” HR. Imam AhmadSeperti yang sudah banyak diceritakan, kesombongan selalu membawa bahaya dan menghilangkan segala kemuliaan. Bahkan seorang yang maksiat saja bisa lebih baik dari ahli ibadah apabila sang ahli ibadah dibutakan dengan kesombongannya. Sedangkan seorang yang maksiat menyadari begitu rendahnya dia dan mengakui a’lam. featured islam ALKISAH, ada seorang lelaki dari kaum Bani Israil yang dijuluki Khali’, orang yang gemar berbuat maksiat besar. Suatu ketika ia bertemu dengan seorang abid dari kaum Bani Israil, orang yang ahli berbuat ketaatan dan di atas kepalanya terdapat payung mika. BACA JUGA Suami yang Beribadah kepada Allah Sepanjang Malam Kemudian Khali’ bergumam, “Aku adalah pendosa yang gemar berbuat maksiat, sedangkan dia adalah abid-nya kaum Bani Israil, lebih baik aku bersanding duduk dengan ny, semoga Allah memberi rahmat kepadaku.” Lalu si Khali’ tadi duduk di dekat si abid. Lantas si abid pun bergumam, “aku adalah seorang abid yang alim, sedangkan dia adalah khali’ yang gemar bermaksiat, layakkah aku duduk berdampingan dengannya?” Tiba-tiba saja si abid menghujat dan menendang si Khali’ hingga terjatuh dari tempat duduknya. BACA JUGA Mengirim Gambar Porno dari Dalam Kubur Lalu Allah memberikan wahyu kepada Nabi Bani Israil dengan firmannya, “Perintahkan dua orang ini yakni abid dan khali’ untuk sama-sama memperbanyak amal, Aku benar-benar telah mengampuni dosa-dosa khali’, dan menghapus semua amal ibadah abid.” Maka, berpindahlah payung mika yang dikenakan abid tersebut kepada khali’. [] SUMBER KABARMEKKAH